Senin, 13 Oktober 2014

Edit

SEMANGAT BAB 1 :)

Kemarin, seharian kebut ngerjain bab 1. Tadi setelah sahur pun, masih lanjut ngerjain kekurangan bab 1. Aku sudah menetapkan target, hari ini setelah kuliah Bahasa Inggris II aku harus sudah menyerahkan bab 1 ke dosbing. Yuhuu, setelah sekian lama mencari jurnal sampe belain ke perpus ITS karena jurnal yang ada di Unair pada purchase. Akhirnya, aku harus menulis proposalku. Minggu lalu sempat ada pengarahan proposal, sempet shock. Rasanya itu kayak baru tidur nyenyak, lalu dibangunin pake galon yang dibanting...Hahahaha...Rasanya persis saat camp ospek pas jaman maba dulu. Bagaimana tidak, pengumpulan naskah proposal tanggal 8 Desember dan sidang proposalnya pas minggu tenang, mulai tanggal 16an Desember. Dan saat diberi pengumumn tersebut, aku seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Mlongo :O Karena saat itu, aku belum prepare..Baru juga sehari hari masuk kuliah -_____- Sudah dapat pengumuman yang bikin nightmare :O
Setelah berjuang sekuat tenaga  menyelesaikan bab 1, rasanya plong banget wes. Hahahaha..Setidaknya, aku bergerak lebih cepat sehingga nanti bisa tepat waktu...Aamiin :]
Proposalku ini berkonsentrasi antara kimia anorganik dengan kimia analitik. Kimia organik karena berhubungan dengan zeolit yang masyaAllah wes :] Terus yang kimia analitiknya karena pakai instrumen Potensiometri. Dapat dosen pembibing yang sesuai dengan incaranku dari awal dulu. Bu Mir’atul Khasanah  dengan Bu Alfa Akustia :]
Alhamdulillah banget, selalu dipermudah sama Allah dalam urusan proposal. Semoga sampai skripsi, sampai ngelab selalu dipermudah. Aamiin :]
Semoga materinya fix yang ini, sudah sukak sama latar belakang yang di ambil. Buat elektroda pasta karbon termodifikasi zeolit A yang diimpregnasi sama Fe(III) yang digunakan sebagai pengukuran glukosa darah yang berada di urin untuk diagnosis penyakit diabetes melitus :] Hahahaha Puanjang ya judulnya :]
Yuhuuu, setelah ini semangat revisian :] Lagi nabung juga buat beli printer :] Uangnya sudah ada sih, tapi apa daya harus di alokasikan dulu untuk perawatan gigi. Hahahaha...Ayo mulai golek duwit maneh :]
Semangat Lulus dik! Agustus 2015 KUDU WISUDA S1 :] AAMIIN
Mulyorejo Utara 113, 13 Oktober 2014 21:02



Sabtu, 11 Oktober 2014

Edit

Hei Diriku, Bersabarlah!

Kemarin, saat rapat besar Kompetisi Kimia 2014. Sempat ngobrol asyik dengan Ana Yulvia, teman seangkatan yang menurutku paling dewasa dalam konteks berfikirnya. Hmm..Sedikit minta nasehat sama dia, biar hati agak tenang. Sering dihantui trauma tentang kecelakaan. Was-was kalau wajahku akan lama pulihnya :[ Mulai berusaha mengembalikan wajahku yang seperti sebelum kecelakaan. Sudah setiap pagi dan sore pakai dermatix untuk nyoba sedikit menyamarkan bekas jahitan dan bekas luka yang ada di wajah. Nyatanya, aku masih malu untuk melepaskan maskerku saat di kampus. Oh, take me back to the start! :[
Ana juga sedang agak galau, jadi dia menunjukkanku capture tulisannya di blog pribadi miliknya. Ini kata-katanya nyess lo. Lumayan mengobati ketidak tenangan yang melanda setelah kecelakaan ini.
Oke, check this out! Repost ya na...Ijin share :] ayulvia.blogspot.com
Bersabarlah!
Kadang ia datang dalam bentuk pujian, kadang dalam bentuk musibah, pun dalam bentuk peringatan. Namun kesemuanya hanya memiliki satu tujuan, agar kita kembali.
Benarlah, terkadang cara-cara sederhana tak cukup untuk mengingatkan dan memberikan kita pemahaman akan suatu hal. Sehingga sesekali kita mesti di berikan cubitan dan bentakan keras. Tapi apakah kalian tahu? Apapun bentuk cubitan dan bentakan itu, semua hanya karena betapa Allah masih menyayangi dan terus mengasihi kita. Setelah itu, entah kita akan ada di posisi mana. Apakah menjadi orang yang mengerti dan kembali. Ataukah menjadi orang yang tak bersabar lalu berputus asa. Semuanya hanya bagaimanana kita menyadari kesalahan dan memetik hikmah dari apapun itu.
Kepada diriku. Aku mohon bersabarlah bersabarlah!
Tulisannya Ana telah menamparku. Aku masih belum bisa menerima kenyataan tentang musibah yang menimpaku. Betapa sayangnya Allah padaku. Aku masih bisa menikmati indahnya dunia dengan dua mataku.Masih bisa merasakan indahnya bisa berkumpul kembali dengan keluarga dan dengan teman-teman kimia. Masih bisa merasakan indahnya ngerjain tugas dan laporan praktikum.
Apa jadinya jika saat hari naas itu aku mengenakan helm yang kliknya rusak? Apa jadinya jika hari itu ternyata aku kecelakaan di Surabaya? Apa jadinya jika hari itu aku tidak ada dek Lutfan yang mengikutiku dari belakang?

Allah, ajarilah aku untuk bersabar dan terus bersyukur. Maafkan hambamu ini ya Robb :[
Orang Jawa hanya bisa berucap “Sujune” sama “ Jathukno”. Untuk kasus ini, aku banyak menggunakan kata “Sujune” yang artinya untungnya.
“Sujune” aku memakai helm yang kliknya masih berfungsi. “Sujune” aku kecelakaan di Pare, apa jadinya kalo aku di Surabaya saat ini. Pasti bingunglah kedua orangtuaku. “Sujune” aku sama dek Lutfan, sehingga ada yang menolongku. Membawaku ke rumah sakit, mengamankan tasku yang berisi laptop dan uang pendaftaran KK sebesar 1 jutaan.
Hanya bisa berucap, Alhamdulillah ya Allah. Terimakasih atas cubitan yang telah Engkau berikan padaku. Ingatkan aku ya Allah bahwa cubitan ini adalah kesempatn  agar aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi.  Ampuni hambamu ini ya Robb. Astagfirullahhaladzim..... :[

Mulyorejo Utara 113, 11 September 2014 21:51


Jumat, 03 Oktober 2014

Edit

Gadis Bermasker

Setelah sembuh dari pemulihan luka karena kecelakaan. Aku sudah bisa ngampus seperti biasanya. Tapi harus rela kalau setiap hari ngampus dengan muka yang selalu tertutup oleh masker. Meskipun itu cukup mengganggu komunikasiku dengan orang-orang sekitarku, tapi aku merasa lebih aman dan nyaman dengan cara ini. Aku tidak mau, orang yang melihat lukaku merasa kasihan kepadaku ataupun mencibirku karena luka di wajahku. Nyatanya aku tak cukup kuat untuk menghadapi cibiran yang akan dilayangkan  kepadaku. Namanya manusia pasti ingin terlihat lebih baik di depan orang lain.
Okeee, aku rapopo. :] Selain kuliah aku juga disibukkan dengan menjadi asisten dosen tiga praktikum yang berbeda dan ada kewajiban memberikan tutorial kimia dasar 1 kepada maba. Yah, namanya asdos ya pekerjaannya mengarahkan adik-adik kelas untuk praktikum. Untuk praktikum kimia analitik 1 aku tidak mengalami kesulitan yang berarti. Karena mereka sudah paham apa yang akan dilakukan karena praktikum kimia analitik ini adalah praktikum individu. Jadi kalau mereka tanya tentang kesulitan selama praktikum, aku tidak membutuhkan kekuatan yang ‘ngoyo’ untuk ngomong. Karena mereka tanyanya satu-satu, jadi masih dengerlah ya karena faktor volume suara yang rendah. Eh maklum bibir masi kaku karena ada bekas jahitannya. Untuk ketawa aja agak ‘ngempet’ nyerinya. Untuk ngomongpun juga begitu. Beda lagi untuk tutor kimia dasar 1, aku merasa bersalah karena belum bisa menjelaskan materi  dengan suara lantang yang bisa di dengar oleh dua puluh anak di ruangan terbuka yang riuh. Akhirnya aku menyerah dan meminta maaf kepada mereka karena keterbatasanku ini. Mereka memaklumi keadaanku, mereka malah merasa kasihan. Duh, aku ndak suka dikasihani. -_____-
Untuk praktikum kimia lingkungan, aku fine saja. Mereka hanya ber-14 anak saja. Dan kami praktikumnya di laboratorium yang lumayan cukup longgar. Sehingga saat aku menginstruksikan langkah kerja praktikum, mereka masih bisa mendengar suaraku. Mereka mengira aku memakai masker untuk menghindari bau buffer salmiak yang menusuk hidung. Syukurlah, mereka tidak mengasihaniku. Tidak tanya kenapa aku menutup mukaku dengan masker :]
Untuk praktikum kimdas 1 aku belum sempat ngasdosi. Kata anak-anak praktikumnya di gedung pertamina lantai 5. Hmmm..bahkan kakiku masih belum sembuh bener ini :[ Untuk naik ke ruangan di lantai 3 pun, aku masih merasakan ngilu dan terengah-engah yang tidak pernah aku rasakan sebelum kecelakaan. Ya Allah, paringi kuat! Aamiin :]
Karena kebiasaan saat kuliah duduk di barisan kursi paling depan, aku merasa dosen-dosen melihatku dengan pandangan yang  ndak seperti biasanya. Mungkin mereka mengira aku tidak sopan ataupun mereka justru penasaran kepadaku karena aku memakai masker mekipun sudah ada di kelas yang berAC. Hahahaha...All is well :]
Eh iya, sempat lupa. Ibu penyet madura langganku tetap mengenali wajahku meskipun aku pakai masker. Ibuknya tahu kalau aku habis kecelakaan. Ibuknya bilang gini “ Owalah nak, bilahi slamet yo nak. Awakmu padahal yo mbari loro tipus pisan lo. Alhamdulillah ga enek luka dalam “. Loh, aku menjawab sambil melongo. Ternyata ibu madura tahu dari Fara. Ibuknya juga  sempet tanya aku dirawat dimana, kalau di Surabaya katanya mau jenguk aku. Tapi aku kan dirawat di Pare. Alhamdulillah, bertambah orang-orang yang menyayangiku.
Ingin secepatnya bengkak bibir ini mengempis agar bisa cepat-cepat pasang gigi dan bisa ngomong seperti biasanya. Tanpa masker. Aamiin
Tidak ingin terus-terusan dikasihani oleh orang lain. Ingin jadi perempuan yang tegar dan tangguh.
Berikanlah kesembuhan ya Roob :] Agar aku bisa melakukan tugasku sebagai mahasiswa tingkat akhir dengan hasil yang memuaskan. Aamiin :]


Kamis, 02 Oktober 2014

Edit

ALLAH SUAYANG BANGET SAMA AKU :)

Setelah pulang dari rumah sakit, ada sesuat yang terus mengusikku. Orang yang berhasil mengevakuasiku dari TKP Kecelakaan sampe ke RSUD Pare belum terlihat batang hidungnya sampai aku meninggalkan rumah sakit. Berterimaksih pada Allah karena saat itu aku ditakdirkan untuk pergi ke Stasiun Papar bersama dek Lutfan.
Setelah pendaftaran OTS KK 2014 sukses di SMAN 2 Pare, kami mengantongi 10 tim yang mendaftar :] Alkhamdulillh :] Aku dan dek Lutfan berencana pergi ke Stasiun Papar untuk beli tiket balik ke Surabaya esok hari. Mengingat badanku lumayan sakit-sakit saat pulang Kediri mengendarai bus, meskipun itu bus Patas Harapan Jaya. Saat itu aku di depan mengendarai motor sendiri. Dek Lutfan menyusul dibelakangku. Setelah melewati perempatan dekat Tugu Garuda menuju Papar, yang aku ingat ada motor yang menyalip kencang di sampingku dengan bawaan obrok besar dibelakangnya. Setelah itu ndak ingat apapun yang terjadi.
Kembali ke cerita intinya, aku lalu menghubungi dek Lutfan melalui SMS.
A : Aku
B : Dek Lutfan
A : Assalamu’alaikum dek. Makasih ya kemarin udah bantu aku. Lemah teles, Gusti Allah sing mbales kebaikanmu dek :}
B : Mbak Dika :[
B : Aamiin :[Gimana mbak keadaane sampean? Aku kemarin ndak berani njenguk sampen. Aku ndredek mbak.
A : Alkhamdulilla, aku sudah pulang ke rumah dek. Eh, gimana kronologi kejadiane dek? Aku bener-bener ndak ingat apa-apa :[
B :  :[ Kemarin sampean disenggol orang bawa obrok mbak. Orang e cuepet.
A : Oh, iya dek. Aku ingatnya cuma ada orang nyalib bawa obrok. Setelah itu aku ndak ingat apa yang terjadi. Eh, aku kemarin setengah sadar saat dalam mobil sama kamu waktu ke rumah sakit. Aku kembali pingsan saat aku liat wajahku penuh darah di spion depan. Itu pakai mobilnya siapa dek?
B : Pakek mobilnya orang yang lagi makan di rumah makan. Alkhamdulillah orangnya baik mbak.
A : Alkhamdulillah dek. Oh iya, orang yang nyenggol aku lari ya dek?
B : Iya mbak. Sampean habis di senggol orang tadi. Sampean nyenggol ibu-ibu. Terus sampean terpental, untung helm e sampean ndak lepas :[ Ndak bisa bayangkan aku mbak. Ngeri mbak. Aku banyak belajar dari kejadiane sampean.
A : Loh, iyakah dek? Terus ibu-ibunya gimana? Ndak papa kan dek ? :[
B : Ibunya ndak papa. Alkhamdulillah cuma jatuh aja. Tapi sampean terpental mbak.
A : Ya Allah dek :] Aku hari itu untung pakai helmnya bapakku yang kliknya masih baik. Sedangkan helmku sendiri kliknya udah rusak dek. Aku gatau apa yang terjadi jika pakai helmku.  :[  Allah suayang sama aku dek :}
B : Iya mbak. Sudah ada yang ngatur mbak. Kita cuman bisa bersyukur. Alkhamdulillah, sampean sing tabah ya mbak.
A : Insyaallah sabar dek  :] Aku ndak papa kok sekarang. Semoga yang nyenggol diampuni sama Allah dek. Ini tinggal penyembuhan kok dek. Aku untung ndak ada luka dalam. Ndak ada patah tulang ndak muntah juga setelah jatuh, kebanyakan yang ditakutkan gagar otaknya. Aku cuma jahit bibir dalam atas bawah sama gigiku patah 3 dek. Masih bisa disembuhkan dek :]
B : Alkhamdulillah. Aku samar sampean mangkel sama orang yang nabrak. Untung sampean ndak mbak.
A : Ndak dek,  Allah Maha Adil kok :]
Bersyukur banget, Alkhamdulillah :] Aku masih diberikan nikmat hidup. Pelajaran yang bisa diambil dari cerita di atas adalah selalu pakai helm yang kliknya masih bisa dipakai. Kita tidak tahu apa ang akan terjadi selanjutya. Karena meskipun kita sudah sekuat tenaga hati-hati di jalan, tetapi ada orang lain yang ceroboh. Kitapun masih terkena imbas dari ketidak hati-hatian orang tersebut. Safety riding yak! Sayangi nyawa kita sendiri :]



Edit

Kangen Kampus

Saat itu tanggal 20 September, aku bersemangat untuk membeli tiket kereta untuk kembali ke Surabaya esok hari. Dengan perasaan senang karena saat pendaftaran On The Spot Kompetisi Kimia 2014 membuahkan hasil. Dengan segala upaya memohon bantuan dengan wajah memelas kepada kaur kesiswaan SMAN 2 Pare untuk mengumumkan pendaftaran OTS KK melalui mikrofon sekolah yang terhubung ke setiap kelas. Alhamdulillah,  ada 10 tim yang mendaftar KK untuk hari tersebut. Sebagian anak yang ingin mendaftar tapi belum membawa uang memelas agar kami betiga ( Aku, dek Lutfan dan dek Jeni ) kembali lagi melakukan pendaftaran OTS sabtu depan, 27 September.
Sembari menunggu siswa yang mendaftar, kami berbincang dengan guru Kimia kami waktu SMA. Bapak Tumaji, merupakan salah satu lulusan Kimia Unair angkatan awal-awal saat jurusan Kimia Unair baru terbentuk. Kami ngobrol ngalor ngidul menceritakan masa-masa pak Tum masih kuliah dengan segala cerita menariknya saat menjadi mahasiswa. Menanyakan kabar dosen-dosen kimia yang sebagian besar adalah satu angkatan dengan pak Tum. Obrolan berakhir ketika pak Tum ijin untuk pulang. Selanjutnya disusul dengan dek Jeni yang ijin untuk mengambil kebaya untuk pernikahannya Oktober bulan depan. Akhirnya tinggalah aku dengan dek Lutfan sendirian di aula sekolah menunggu adik adik yang mau menyerahkan formulir perndaftaran.
Setelah segala urusan untuk OTS selesai, aku dan dek Lutfan ijin untuk tidak mengikuti acara rapat evaluasi di rumah Fara di jalan Dhoho. Karena terlalu jauh dan kami berdua belum beli tiket kereta untuk esok hari. Akhirnya, kami memutuskan untuk membeli tiket ke stasiun Papar. Dek Lutfan menyuruhku untuk dahulu, dia menyusul di belakangku. Saat  kami mengambil arah Papar di perempatan dekat tugu Garuda. Tiba-tiba saja ada motor dengan bawaan “obrok” mendahuluiku. Aku lupa dengan apa yang terjadi. Saat aku bangun, aku sedang di dalam mobil. Aku dipegang dek Lutfan dan aku  melihat wajahku berlumur darah di spion depan mobil tersebut. Aku  tersadar kembali saat aku merasakan sakitnya jarum jahit menembus bibirku :[
Saat aku lihat pintu IGD RSUD Pare, ada bapak, ibuk dan mbak Likah berdiri di dekat pintu dengan wajah yang cemas. Lalu petugas rumah sakit menyuruh mereka untuk tidak berdiri dekat pintu IGD. Setelah  itu aku tak sadarkan diri lagi. Saat aku sadar aku merasakan sakitnya luka yang ada di wajahku. Aku tidak melihat dek Lutfan saat itu, yang masuk ke dalam IGD hanya bapak, ibuk, mbak Likah dan dek Jeni pamitan untuk pulang. Tak beberapa lama, akhirnya datang Fara, Keceng, Choki dan dek Ayu datang menjenguk. Mereka menghiburku agar tidak sedih dan tetap sabar.
Pukul 4 Sore aku dipindahkan ke kamar kelas 2, ruang Tanjung. Bapak menolak untuk BPJS karena bapak tahu, banyak pasien BPJS yang terlantar belum mendapatkan kamar. Aku merasakan waktu berlalu sangat lama saat di rumah sakit. Membosankan dan jenuh, itulah yang terjadi selama 4 hari di RSUD Pare. Aku mengisi waktuku di RSUD dengan mengerjakan TTS ataupun bermain games. Sering dimarahi perawat karena jarum infus sering kendor karena tangan kananku sering aku gunakan bergerak. Setiap hari banyak sekali saudara yang bertandang untuk menjengukku. Aku merasa sangat bahagia dan haru melihat mereka antusias mendoakan untuk kesembuhanku. Sebagian besar dari mereka ada yang meneteskan air mata saat melihat wajahku bengkak di mana-mana penuh dengan luka. Aku yang kala itu berusaha menguatkan diriku untuk tidak meneteskan air mata, akhirnya menyerah. Aku juga ikut menangis. Orang yang paling tegar yang tidak terlihat meneteskan airmata adalah ibuk dan bapak. Bapak sudah mewanti-wanti ibuk untuk tidak menangis agar aku tidak ikut menangis dan sedih.
Empat hari di rumah sakit sudah cukup untukku. Semoga itu pertama dan terakhir kalinya aku menginap di rumah sakit. Amiin ... Saat pulang, aku mendapatkan kejutan yang sungguh mengejutkanku. Masa lalu kembali berputaran di otakku. Yup, keluarganya mantan jauh-jauh dari Magetan menjengukku. Sempat shock karena mereka tak memberitahu dan mereka tahu darimana aku juga tak tahu. Saat itu mantan juga dalam keadaan tak bisa jalan karena juga jatuh, sehingga yang ada hanya ibuknya, bapaknya, budhenya dan pak dhe Sar. Ada rasa canggung saat itu karena aku sering mengabaikan sms ibuknya.Hmmm.. mereka tak lupa membawakanku tempe Magetan sekardus. Tempe Magetan merupakan  tempe terenak yang pernah aku makan. Yang sering mantan bawakan saat masa-masa ngapel ke rumah dulu. Hahahaha :] Pulang ke rumah dengan menumpang mobil yang mereka naiki. Ada sedikit rasa malu, kenapa selalu merepotkan mereka. Saat sampai di rumah, tetangga kasak kusuk menanyakan saudara dari bapak atau ibuk. Akhirnya, ibuk menceritakan semuanya tentang mereka sejujurnya.
Sorenya, aku merasa senang sekaligus kasihan pada Fara, Ilma, Ridwan dan Sis yang belain jauh-jauh dari Surabaya buat jenguk aku. Thanks rek :* Kedatangan kalian membuatku ingin segera cepat-cepat balik Surabaya. Kembali kuliah seperti biasanya. ;] Saat ini aku sedang berjuang untuk segera sembuh. Agar bisa membantu final Kompetisi Kimia nanti tanggal 11 Oktober nanti. Wait me Kampus rek! I miss you rek :]



Rabu, 10 September 2014

Edit

Cinta Monyet

Tadi pagi, sebelum kuliah Kimia Minyak Bumi sempat ngobrol asyik dengan Dira. Denger-denger gosip dari teman-teman,  bulan desember  entar Dira udah mau nikah sama mas Bombom. Aku sebagai teman yang kepo, tanya-tanya soal kebenaran kabar tersebut. Ternyata benar, Dira sama mas Bombom rencananya cuma mau  ijab qobul saja. Resepsinya nanti setelah wisuda tahun 2015. Ngomongin ngalor ngidul tentang nikah, ujung-ujungnya ngomongin mantannya Dira yang masih satu kampus yang kalau ketemu masih selintutan. Dira sempet negur mantannya, tapi jawaban mantannya agak ndak ngenakin ati lah. Dira sempet berucap,  mantan itu gamungkin bisa jadi sahabat,tapi kalau musuh masih ada kemungkinan untuk menjadi sahabat. Denger omongan Dira, aku tersentak kaget. Lumayan kesindir dengan omongannya yang lumayan ada benarnya. Dipikir-pikir memang benar kok, dari semua mantan semuanya lost contact. Ndak ada hubungan lagi setelah putus. Meskipun sering ketemu, gapernah say hello.
Ngomongin mantan, jadi ingat sama cinta monyetku jaman aku masih SMP. Sempat jadian beberapa tahunlah. Kalau ingat jaman itu, pengen ketawa-ketawa sendiri. Apalagi waktu nembak, meskipun dikasih bunga mawar hasil nyolong dari tetangganya, aku tetep aja ngerasa so sweet saat itu. Bunga mawar tersebut lalu aku simpan dalam buku diary sampai akhirnya rontok dan mengering. Hahahaha :p
Terus saat ulang tahun, dia udah mikir surprise yang menurutku lumayan bikin aku melting :] Dikasih hadiah mukena :] Surprisenya pun dilakukan setelah ngaji (jaman itu aku ngaji di masjid, dia juga ngaji). Dengan mengarahkan teman-teman ngaji, maka terasa semaraklah surprise itu. Kalau ingat betapa banyaknya balon yang dia tiup untuk ngasih surprise aku, sempat ngrasa kasian saat balon itu dengan mudahnya diletuskan untuk mengagetiku :]
Berangkat sekolahpun aku juga ditemani, dia naik sepeda motor untuk berangkat ke SMKnya, sedang aku naik sepeda untuk berangkat ke  SMP, karena waktu itu dia pun sekolah di Pare. Kami mengendarai sepeda beriringan sampai berpisah di depan SMPku. Sorenya ketemu lagi untuk ngaji :] Begitu seterusnya setiap hari selama beberapa tahun. Karena satu desa maka kesempatan untuk bertemu pun juga sangat sering. Hampir setiap hari bertemu saat ngaji, saat pulang ngaji di antar pulang mengendarai sepeda onthel berdua. Dia mbonceng aku sampai dekat rumah, ga berani sampai depan  rumah. Takut kena amuk bapakku. Hahahaha..Kalau di ingat-ingat ya pengen ketawa.. Kok ya lucu ya jaman-jaman itu.
Karena terjadi pertengkaran kecil ala anak muda, maka kandaslah cinta monyet jaman SMP tersebut. Masih sempet berhubungan baik lewat SMS, waktu aku masih SMA dia masih sempet kok setiap tahun ngucapin selamat ulang tahun ke aku. Akupun juga demikian, masih sempat mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Akan tetapi, semenjak kuliah di Surabaya ini. Aku sama dia benar-benar lost contact. Meskipun satu desa, saat aku pulkampun aku ndak pernah ketemu dia. Hanya bertemu pas hari raya saja, itupun saat berjabatan tangan dia tak berani memandang mataku. Dia hanya mengatakan “Sepurane sing akeh yo dik” itu saja...Ngrasa agak janggal se, tapi yaweslah. Yang aku pengen se, ya tetap menjaga pertemanan lah ya. Aku sama dia kan dulu masih cinta monyet se. Hahahaha
Rasanya omongan Dira memang ada benernya kok...Mantan itu ndak bisa jadi sahabat...Aku akan menunggu kelanjutan cerita ini. Apakah hipotesis Dira itu akan terpatahkan oleh waktu?
Wallahu’alam bissawab :]

  
Mulyorejo Utara 113, 10 September 2014 23:18


Sabtu, 06 September 2014

Edit

Surat Cinta Untuk Calon Suamiku di Masa Depan Part II


Dear Kang Masku di Masa Depan,
Apa kabar kamu mas?
Kamu sekarang di mana mas?
Jauh kah dari Surabaya?
Atau jangan-jangan kamu juga ada di Surabaya?
Pertanyaan itulah yang setiap hari berkelilingan di otakku.
Sudah tidak sabar ingin segera bertemu denganmu mas. Kamu juga kah mas?
Pengen share cerita ini ke kamu, aku juga bingung jika dihadapkan dengan pertanyaan ini. Nanti, diskusi bareng ya mas :] (insyaAllah)
Kemarin, waktu aku bantu mbak kos menyiapkan souvenir untuk pernikahannya, sempat diskusi masalah mengasuh anak. Aku sempat speechless saat ditanya, “saat sudah nikah nanti ingin kerja ndak dek? terus ngurus anakmu nanti gimana dek? kalau suami gak mengizinkan kerja gimana dek?”
Sebagai mahasiswi yang masih polos, yang tiba-tiba  diberondong pertanyaan semacam itu aku terdiam sejenak. Mencoba menjawab pertanyaan itu sebijak mungkin tanpa harus menyakiti hati mbak kos yang notabene ndak dibolehin kerja sama calon suaminya setelah menikah .
Aku menjawab dengan suara yang pelan “ Ehm, gini mbak Nay. Setelah menikah, istri adalah menjadi tanggung jawab suami. Akan tetapi alangkah baiknya masalah tersebut di diskusikan dengan serius dengan suami mbak. Istri bekerja bukan sebuah kewajiban, akan tetapi alangkah baiknya membantu suami menyiapkan tabungan masa depan untuk anak-anak mereka kelak. Seorang istri jika bekerja hendaknya juga tidak boleh menyita waktu untuk berkumpul bersama keluarga dan tidak  boleh mengabaikan tugasnya sebagai seorang istri. Jikalau suami tidak mengizinkan, kita bisa tetap kerja di rumah mbak. Bisa jualan online, wirausaha toko kelontong, buka bimbel. InsyaAllah ndak mengganggu waktu bersama keluarga. Untuk masalah anak, kita sebagai seorang istri kelak akan menjadi madrasah pertama bagi anak-anak kita kelak mbak. Sebaiknya anak juga tetap dalam asuhan kita mbak. Agar kita bisa tahu tumbuk kembang anak kita setiap harinya. Sepertinya aku menjadi sok bijak ya mbak. Tapi, semua sebaiknya didiskusikan dengan suami. Karena suami adalah imam kita. Dia pasti akan menjadi nahkoda yang handal agar bisa melewati kerasnya ombak di samudra kehidupan berumah tangga mbak. Yakin sama mas Wanda mbak. InsyaAllah mas Wanda juga ingin yang terbaik bagi keluarganya kelak.”
Butuh waktu yang cukup lama untuk menjawab pertanyaan mbak Nailis. Sekiranya kamu nanti juga berfikiran sama dengan mas Wanda. Aku percaya, kamu ingin yang terbaik untuk kita. Tapi yakinlah, aku bekerja bukan untuk diriku sendiri. Aku bekerja hanya untuk membantumu menyiapkan masa depan anak kita, agar mereka kelak bisa memperoleh pendidikan yang lebih baik dan lebih tinggi dari kita.
Aku percaya kamu akan membawa keluarga kita tetap bertahan mengarungi derasnya ombak di samudra kehidupan ini. Aku yakin, kita pasti bisa melewatinya. Bismillah :]
Aku menunggumu selalu mas :]
InsyaAllah akan segera dipertemukan :]

Aamiin :]