Minggu, 19 Oktober 2014

Edit

ANALISA KUALITATIF IODIUM DALAM GARAM DENGAN METODE SPOT TEST


ANALISA KUALITATIF IODIUM DALAM GARAM  DENGAN METODE SPOT TEST
A. TUJUAN
1. Melakukan pemerikasaan Iodium secara kualitatif dengan spot test pada beberapa sampel garam dapur
2. Membandingkan kepekatan warna biru larutan KIO3 pada beberapa konsentrasi yang berbeda
B. LANDASAN TEORI
Penetapan kadar iodium suatu bahan pangan diperlukan untuk mengetahui kandungan iodium yang terdapat dalam bahan pangan. Dengan mengetahui kandungan iodium dalam bahan pangan tersebut nantinya akan digunakan untuk mengukur tingkat kecukupan iodium sehari dari konsumsi bahan pangan tersebut. Bahan pangan yang di analisis terutama adalah garam dapur yang terfortifikasi karena garam dapur fortifikasi umumnya merupakan sumber iodium yang baik. Namun, biasanya kandungan iodium dari berbagai merek dagang berbeda dalam berat garam yang sama.
Iodium merupakan salah satu mineral mikro yang berperan penting dalam sistem fisiologis tubuh. Iodium ada di dalam tubuh dalam jumlah yang sangat sedikit, yaitu sebanyak kurang lebih 0,00004% dari berat badan atau sekitar 15023 mg. Iodium merupakan anion monovalen. Keadaannya dalam tubuh mamalia dan manusia sebagai hormon tiroid. Hormon ini sangat penting selama pembentukan embrio dan untuk mengatur kecepatan metabolisme dan produksi kalori atau energi.
Jumlah iodium yang terdapat dalam makanan sebanyak jumlah ioda dan untuk sebagian kecil secara kovalen mengikat asam amino. Iodium diserap sangat cepat oleh usus dan oleh kelenjar tiroid digunakan untuk memproduksi hormon thyroid. Saluran ekskresi utama iodium adalah melalui urin Cara ini merupakan indikator utama jumlah pemasukan dan status iodium. Jika tingkat ekskresi iodium dalam kondisi yang rendah (25-20 mg L/g creatin) yang menunjukkan resiko kekurangan iodiun dan yang memiliki tingkatan yang rendah menunjukkan resiko lebih berbahaya.
Iodium mempunyai peranan yang sangat penting pada tubuh manusia. Berbagai macam penyakit dapat ditimbulkan karena pada tubuh manusia kekurangan iodium. Iodium merupakan elemen yang sangat penting bagi tubuh manusia. Iodium  sangat berperan dalam pembentukan hormon tiroid yang berfungsi untuk mengontrol laju metabolisme dasar dan reproduksI. Fungsi iodium pada tubuh adalah sebagai komponen esensial teroksin dan teroid. Teroksin dapat meningkatkan laju oksidasi dalam sel-sel tubuh sehingga meningkatkan BMR (Basal Metabolic Rate). Dalam kelenjar teroid iodium bergabung dengan molekul tirosin membentuk teroksin dan triiodotironin. Selain itu iodium diperlukan juga dalam proses reproduksi wanita yang sedang hamil. Kekurangan iodium dapat menyebabkan penyakit gondok. Penyakit ini dapat terjadi waktu usia menginjak dewasa. Kretinisme juga merupakan gejala kekurangan iodium yaitu kekurangan iodium pada masa awal setelah bayi dilahirkan yang berakibat pertumbuhan bayi sangat terhambat, wajahnya kurus dan membengkak, perut kembung dan membesar.
Garam beriodium merupakan solusi bagi kebutuhan iodium untuk masyarakat. Perlu dilakukan kontrol apakah produk garam beriodium sudah memenuhi standar minimal kadar iodium, yaitu 30 ppm. Metode konvensional yang biasa digunakan untuk mengukur kadar iodium dalam garam adalah titrasi iodometri. Namun, metode ini membutuhkan waktu yang cukup lama, peralatan yang cukup mahal, dan dibutuhkan seorang analis untuk dapat melaksanakannya.
Metode  test kit merupakan metode yang cukup sederhana, tidak membutuhkan peralatan yang rumit, dan dapat langsung diaplikasikan di lapangan. Uji dengan test kit untuk analisis garam beriodium ini diharapkan dapat memberikan data kualitatif dan semikuantitatif. Prinsip dari uji ini adalah analisis kadar iodium berdasarkan intensitas warna larutan kompleks yang terbentuk antara iodin dengan amilum. Semakin pekat warna yang dihasilkan maka kandungan iodium dalam garam tersebut semakin besar.



C. ALAT DAN BAHAN
·         Alat                                                                
1.      Gelas beaker 100 mL
2.      Pengaduk
3.      Labu ukur 10 mL
4.      Labu ukur 100 mL
5.      Pipet tetes
6.      Ball pipier
7.      Pipet volume 1 mL
8.      Kaca Arloji
·         Bahan
1.      KIO3 100 ppm
2.      Amilum
3.      Garam dapur berbagai merk seperti
§  Garam merk Indomart
§  Garam merk Kapal
§  Garam merk Meja
§  Garam merk Garami
D. PROSEDUR KERJA      :
·         Pembuatan larutan
 Larutan Amilum
Larutkan 5 gram kanji dalam 50 mL air dingin. Kemudian pada wadah lain didihkan 950 mL akuades, setelah mendidih masukkan larutan kanji ke dalamnya, aduk terus hingga terbentuk larutan tak berwarna
 Larutan KI 10%
Larutkan 1 gram KI dengan akuades dalam labu ukur 10 mL
 Larutan KIO3 1000 ppm
 Larutan sampel (Larutan garam 20%)
Timbang 2 gram pada masing-masing merk, kemudian larutkan dengan akuades dalam labu ukur 10 mL

·         Pembuatan teskit
 Teskit dari Cotton bud
Siapkan cotton bud, rendam dalam larutan amilum selama kurang lebih 5 menit. Selanjutnya angin-anginkan cotton bud hingga kering.
 Teskit dari kertas saring
Siapkan kertas saring, gunting memanjang dengan ukuran yang sama, rendam dalam larutan amilum selama kurang lebih 5 menit. Selanjutnya angin-anginkan kertas saring hingga kering.
·         Pembuatan deret warna
1.      Siapkan larutan induk KIO3 1000 ppm
2.      Dari larutan tersebut, buatlah larutan kerja KIO3 dengan konsentrasi 40, 60, dan 80 ppm
3.      Siapkan empat tabung reaksi. Tabung A diisi dengan 1 mL KIO3 40 ppm, Tabung B diisi dengan 1 mL KIO3 60 ppm, Tabung C diisi dengan 1 mL KIO3 80 ppm, Tabung D diisi dengan 1 mL KIO3 100 ppm
4.      Pada masing-masing tabung tambahkan 1 mL KI, 1 mL HCl, serta 1 mL amilum
·         Penentuan kadar iodium pada 4 garam dengan merk berbeda
1.      Siapkan 4 garam dengan merk yang berbeda.
2.      Timbang 2 gram pada masing-masing merk, kemudian larutkan dengan akuades dalam labu ukur 10 mL
3.      Setelah larutan sampel dibuat, siapkan 4 tabung reaksi. Tabung A diisi 1 mL garam merk A, Tabung B diisi 1 mL garam merk B, Tabung C diisi 1 mL garam merk C, Tabung D diisi 1 mL garam merk D.
4.      Pada masing-masing tabung tambahkan 1 mL KI serta 1 tetes HCl
5.      Adapun cara pengujiannya adalah sebagai berikut :
v  Uji langsung
Uji langsung adalah dengan cara memasukkan 1 mL amilum ke masing-masing tabung reaksi. Lalu dibandingkan intensitas warna dari setiap tabung reaksi.
v  Pengukuran dengan test kit cotton bud
Test kit dari cotton bud dimasukkan ke dalam setiap tabung reaksi yang berisi masing-masing larutan garam, lalu dibandingkan intensitas warna yang ditunjukkan setiap test kit.
v  Pengukuran dengan test kit kertas saring
Test kit kertas saring dimasukkan ke dalam setiap tabung reaksi yang berisi masing-masing larutan garam, lalu dibandingkan intensitas warna yang ditunjukkan setiap test kit.

E. DATA HASIL PENGAMATAN
Penentuan Kadar Iodium pada 4 Garam yang Berbeda
Merk Garam
Intensitas Warna Biru Masing-Masing Sampel
Uji Langsung
Test Kit Cotton Bud
Test Kit Kertas Saring
Indomart
+++
+++
+++
Kapal
++
++
++
Meja
+
+
+
Garami
++++
++++
++++
             
Penentuan Deret Warna dari Larutan KIO3 Berbagai Konsentrasi
Konsentrasi KIO3
Intensitas Warna Biru
40 ppm
++++
60 ppm
+++++
80 ppm
++++++
100 ppm
+++++++

F. PEMBAHASAN
Pada praktikum ini dilakukan analisis kualitatif dan semi kuantitatif iodium dalam bentuk KIO3 pada sampel garam dapur  berbagai merk secara spot test. Pada praktikum ini, garam dapur yang digunakan bermerk Indomart, Meja, Kapal dan Garami. Digunakan empat merk yang berbeda agar diketahui perbedaan kandungan iodium tiap merk garam yang dibandingkan dengan deret warna pada larutan kerja KIO3  berbagai konsentrasi. Perbedaan itu dapat dilihat dari intensitas warna yang dihasilkan dari uji secara  langsung, uji dengan test kit dari cotton bud dan uji dengan test kit dari kertas saring.
Cara pembuatan test kit dari kertas saring dan cotton adalah dengan cara  merendam keduanya dalam larutan amilum 0,5 % selama 5 menit lalu dibiarkan kering di udara terbuka . Setelah itu, membuat larutan sampel dengan melarutkan 2 gram sampel garam dapur dengan aquades 10 ml . Sampel yang digunakan terdiri dari garam berbagai merk yaitu Indomart, Meja, Kapal dan Garami. Lalu 1 ml dari masing-masing larutan sampel dipipet 1 ml dan ditambah 1 ml KI dan 1 tetes HCl pekat. Tujuan sampel garam (yang mengandung KIO3) direaksikan dengan KI dalam suasana asam agar terbentuk iodin yang kemudian membentuk kompleks berwarna biru terhadap amilum. Harapannya saat test kit dari kertas saring dan cotton bud (yang telah direndam amilum) dicelupkan pada campuran larutan tersebut bisa menghasilkan warna biru. Pada praktikum ini, proses pencelupan test kit dilakukan ±2 menit. Setelah selesai, dapat dilihat dari perbedaan warna biru yang terlihat dari masing-masing testkit



Dari kedua gambar di atas didapatkan informasi bahwa intensitas warna biru yang dihasilkan pada setiap test kit berbeda. Intensitas warna biru yang paling tinggi adalah pada sampel garam Garami sedangkan intensitas warna biru yang paling rendah adalah pada sampel garam Meja. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kandungan Iodium tertinggi adalah pada sampel garam Garami dan kandungan Iodium terendah pada sampel garam Meja.
Selanjutnya dilakukan uji langsung pada masing-masing sampel garam dengan menambahkan larutan amilum sebanyak 1 ml. Setelah itu diamati intensitas warna biru yang terlihat berbeda pada setiap sampel garam




            Dari gambar di atas didapatkan informasi bahwa intensitas warna biru yang paling tinggi terdapat pada sampel garam Garami. Sedangkan, intensitas warna biru terendah terdapat pada sampel garam Meja. Sehingga, dapat ditarik kesimpulan bahwa kandungan Iodium tertinggi terdapat pada sampel garam Garami dan kandungan terendah pada sampel garam Meja. Hasil ketiga uji menunjukkan hasil yang sama bahwa kandungan Iodium tertinggi tetap terdapat pada sampel garam Garami dan kandungan terendah terdapat pada sampel garam Meja.
            Selanjutnya dibuat deret warna biru dari larutan kerja KIO3 berbagai konsentrasi yang digunakan untuk analisis semi kuantitatif Iodium dalam sampel garam. Larutan kerja yang dibuat ada 4 konsentrasi berbeda yaitu sebesar 40 ppm, 60 ppm, 80 ppm dan 100 ppm. Dari praktikum ini didapatkan intensitas warna sebagai berikut :





Dari ketiga gambar di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa, intensitas warna biru yang terbentuk sesuai dengan konsentrasi KIO3 yang ada pada larutan kerja. Semakin tinggi konsentrasi KIO3 pada larutan kerja, maka semakin kuat warna biru yang terbentuk sehingga dapat disimpulkan bahwa kandungan Iodium juga semakin besar.
            Selanjutnya, hasil yang diperoleh dari pengukuran intensitas warna biru pada sampel garam dibandingkan dengan hasil deret warna pada larutan kerja KIO3.

Dari gambar di atas terlihat bahwa, sampel garam Garami yang intensitas warna birunya paling tinggi setara dengan intensitas warna pada larutan kerja KIO3 40 ppm. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kandungan Iodium pada sampel garam Garami berkisar pada 40 ppm. Sedangkan sampel garam Kapal, Indomart dan Meja berada di bawah 40 ppm. Hal ini membuktikan bahwa sebagian sampel garam Garami telah memenuhi standart minimal Iodium yang disarankan pada garam dapur yaitu sebesar 30 ppm.
Intensitas warna biru yang terbentuk merupakan hasil pembentukan kompleks antara iodium dengan amilum. Reaksi kimianya adalah sebagai berikut :


KIO3 + 5KI + 6H+ à 3I2 + 3H2O + 6K+


 G. KESIMPULAN
  1. Pada praktikum ini, analisis kualitatif Iodium pada sampel garam dapur yang diuji menggunakan uji langsung, uji test kit cotton bud dan uji test kit kertas saring  menunjukkan hasil yang sama. Intensitas warna biru yang terbentuk pada berbagai sampel garam adalah sebagai berikut :
merk Garami > merk Indomart > merk Kapal >  merk Meja
  1. Pada pembuatan deret warna menggunakan larutan kerja KIO3 berbagai konsentrasi diperoleh intensitas warna biru sebagai berikut :
kons. 100 ppm > kons. 80 ppm > kons. 60 ppm > kons. 40 ppm
  1. Analisis semi kuantitatif Iodium dalam sampel garam dibandingkan dengan larutan kerja dengan membandingkan intensitas warna biru adalah sebagai berikut :
kons. 40 ppm ≈ merk Garami > merk Indomart > merk Kapal > merk Meja
H. DAFTAR PUSTAKA
Basset, J. Dkk. 1994. Buku Ajar Vogel – Kimia Analisis Kuantitatif Anorganik. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran.
Day, R.A. Dkk.  2002 . Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta: Erlangga.
Harjadi, W. 1990. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta : Penerbit PT Gramedia..
Sudarmaji, Slamet. Dkk. 1989. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. Yogyakarta : Penerbit Liberty.

Sabtu, 18 Oktober 2014

Edit

Sekaran Kidul, Miss You So Much :(

Rindu kampung halaman saat menempuh studi di luar kota sudah menjadi hal yang biasa bagi mahasiswa perantauan sepertiku. Di semester tua ini, kesempatan untuk bisa pulang kampung sangat langka. Memanfaatkan waktu sabtu dan minggu dengan sebaik mungkin untuk mengerjakan tugas atau nyicil nulis proposal. Aku bangga menjadi orang Kediri. Kadang sering menjadi bahan bullying saat kuliah dan saat KKN lalu. Ada yang bilang Kediri bioskopnya ndak up to date, Simpang Gumul catnya jelek dsb. Aku sebagai warga Kediri menimpali bercandaan semacam itu dengan balik melakukan bullying pada daerah asal teman yang membully. Hahaha ini yang bikin seru saat kuliah. Yang kerap membullyku ya anak Blitar, karena dia tahu seluk beluk Kediri dengan sangat bagus. Bullying dilakukan sejak awal semester lalu sampai saat ini. Kami hanya bercanda, tanpa ada niat menjelekkan daerah lain. Kami ndak separah bullying yang dilakukan pada kota Bekasi kok (yang sekarang menjadi trending topic)
Aku, berasal dari sebuah dusun terpencil yang jauh dari tempat fotokopi, warnet ataupun Indomart. Untuk fotokopi pun, harus keluar dusun melewati jalan dengan kanan kiri pematang sawah yang luas. Jika malam hari, tidak ada penerangan di jalan itu. Satu-satunya penerangan ya dari lampu sepeda motor yang dinaiki. Temanku SMA maupun teman kuliah yang main ke rumahku selalu bilang “ndeso” ya. Hahahaha..Dusunku tinggal bernama Dusun Sekaran Kidul Desa Sekaran Kecamatan Kayen Kidul Kabupaten Kediri. Aku merindukan dusun ini karena ketenangan dan keramahan tetangga. Tetanggaku sangat care padaku. Buktinya saat aku sakit, sedusun yang terdiri dari tiga baris ini banyak yang menjengukku di rumah sakit maupun saat aku di rumah setelah dari rumah sakit. Hampir semuanya menjengukku membawakan buah ataupun makanan ringan. Saat mereka ramai-ramai menjengukku di rumah sakit, para pasien yang berada di kamar Tanjung heran melihat banyaknya orang yang membesukku. Ada yang meneteskan air mata saat menjengukku, ada yang merasa kasihan padaku hingga memilih keluar ruangan karena tak tega melihat wajahku yang saat itu terbilang mengenaskan. Terimaksih para tetanggaku :*
Aku rindu suasana sholat shubuh jamaah di musholla dekat rumah. Rindu tenangnya dusunku selepas magrib, jarang ada sepeda motor yang bersliweran di jalan. Rindu suasana sholat Id. Rindu makan berkat bersama setelah sholat Id di masjid. Rindu sapaan tetanggaku saat aku ikut belanja “Mbak Dika teko kapan?”. Rindu mengajar les anak TK,SD, SMP dan SMA yang masih polos belum senakal anak yang ada di Surabaya (yang pernah aku beri les). Rindu digodai sama bapak yang jualan ayam, langganan ibuk, bapaknya selalu menggodaiku “Wah, dilut engkas iki” Hahahaha. Rindu rujak ciungurnya tetanggaku yang super wenak. Yang di Surabaya lewat wes. Rindu ningguin bapak yang jualan gethuk lindri (jajanan favoritku) di depan rumah sambil ngantuk-ngantuk. Rindu Dusun Sekaran Kidul dengan segala isinya.
Yang paling aku rindukan adalah keluarga tercinta. Ibuk, selalu sms gini setelah aku bilang mau pulang ke rumah “Nduk, njaluk dimasakne opo?” dobel muah :* buat ibuk tercinta. Tiba dirumah, ibuk sudah menyiapkan makanan kesukaanku. :] Lain dengan bapak yang  selalu menawarkan makan saat aku baru dari turun dari kereta “Nduk, luwe gak? Ayo nyoto”. Ujungnya, aku sama bapak selalu kuliner malam hari. Mampir ke warung Soto Ayam Kampung khas Surabaya yang ada di depan pasar Bogo. Kedua orang tuaku sangat sensitif mengenai makan. Mereka takut, aku kena tifus karena telat makan. Takut maagku kumat saat aku lagi males makan. Saat mau balik ke Surabaya pun, aku selalu dibawakan bekal makan. Yang paling cerewet masalah ini adalah bapakku. Pernah sekali aku menolak dibawakan bekal karena bawaanku yang cukup berat. Endingnya ibukku yang kena omelan bapak. Ibuk bilang omelannya bapak kayak gini ke ibuk “ Ngunu kuwi anake yo tetep digawani sego. Masiyo abot yo gak popo. Engko nak wes tekan kos mesti kesel. Nek wes enek sego , dika lak gak bingung tuku maem nang njobo” Aku sempat merasa menyesal karena membuat bapak ibuk menjadi debat gara-gara aku gamau dibawakan bekal saat balik Surabaya. Setelah itu, aku selalu mengiyakan jika ibuk dan bapak membawakan bekal. :] Sayangnya mereka padaku :]
Saat pulang ke rumah, selalu memanfaatkan quality time  dengan mereka. Aku meskipun pulang ke Kediri, aku jarang banget jalan-jalan ke luar rumah kecuali buat beli obat jantungnya tetanggaku sama beli keperluan kosmetik di Pare. Selalu menguasahakan agar bisa sholat jamaah magrib sama bapak, ibuk dan adik di rumah. Quality time saat bersama bapak ya saat bapak minta buat “metani” rambut putih yang mulai banyak. Bapak bilang gatalnya Masyaallah. Bisa sampai 1,5 jam aku betah “metani” rambut putih yang ada. Saat itu, aku bisa curhat panjang lebar mulai dari kuliah, teman, cowok, ibuk kos, dosen sampai masalah jodoh. Kalau dicurhati masalah cowok, bapakku selalu menjawab “Kuliah sing tenanan nduk, pacaran e mben ae “. Lain lagi dengan ibuk, quality timenya saat bantu beliau masak di dapur ataupun saat nonton TV. Yang aku curhatkan sama kok, ibuk cenderung “memberi izin” aku pacaran. Tapi bersyarat lo ijinnya, syaratnya IPK ku harus naik. Tenang aja buk, gak pacaran pun aku selalu berusaha menaikkan IPK. Aku sedang menikmati indahnya tanpa pacar. Indahnya kumpul dengan teman-teman. :]
Eh, iya ada yang kelupaan. Saat pulang kampung, aku sedikit merasa terintimidasi oleh guyonan tetangga yang bikin ger -______-. Masalahnya, temanku sekolah SD, hampir semuanya udah menikah. Terus aku ditnyai kapan nyusul. Duh, orang-orang ini sibuk banget ya ngurusin hidupku. Aku gak papa lo padahal. Aku melhat teman-temanku yang sudah menikah wajahnya kelihatan lebih tua dari aku. Mungkin mereka sudah mikir bagaimana keluarga, bagaimana menghidupi anaknya. Aku merasa nyaman dengan kondisiku saat ini kok :] Aku sedang menanti orang yang dipersiapkan Allah. Tentunya di bawah langit yang sama, di atas bumi tempatku berpijak saat ini :]
Eh, ini kenapa ngelantur jauh banget ya. Dari ngomongin kampung halaman kenapa jadi ngomongin jodoh? #gagalfokus


Ini, mw nampilin foto kampung halaman dari depan rumah :]


Apa kabarnya ya mangga depan rumah?

Senin, 13 Oktober 2014

Edit

SEMANGAT BAB 1 :)

Kemarin, seharian kebut ngerjain bab 1. Tadi setelah sahur pun, masih lanjut ngerjain kekurangan bab 1. Aku sudah menetapkan target, hari ini setelah kuliah Bahasa Inggris II aku harus sudah menyerahkan bab 1 ke dosbing. Yuhuu, setelah sekian lama mencari jurnal sampe belain ke perpus ITS karena jurnal yang ada di Unair pada purchase. Akhirnya, aku harus menulis proposalku. Minggu lalu sempat ada pengarahan proposal, sempet shock. Rasanya itu kayak baru tidur nyenyak, lalu dibangunin pake galon yang dibanting...Hahahaha...Rasanya persis saat camp ospek pas jaman maba dulu. Bagaimana tidak, pengumpulan naskah proposal tanggal 8 Desember dan sidang proposalnya pas minggu tenang, mulai tanggal 16an Desember. Dan saat diberi pengumumn tersebut, aku seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Mlongo :O Karena saat itu, aku belum prepare..Baru juga sehari hari masuk kuliah -_____- Sudah dapat pengumuman yang bikin nightmare :O
Setelah berjuang sekuat tenaga  menyelesaikan bab 1, rasanya plong banget wes. Hahahaha..Setidaknya, aku bergerak lebih cepat sehingga nanti bisa tepat waktu...Aamiin :]
Proposalku ini berkonsentrasi antara kimia anorganik dengan kimia analitik. Kimia organik karena berhubungan dengan zeolit yang masyaAllah wes :] Terus yang kimia analitiknya karena pakai instrumen Potensiometri. Dapat dosen pembibing yang sesuai dengan incaranku dari awal dulu. Bu Mir’atul Khasanah  dengan Bu Alfa Akustia :]
Alhamdulillah banget, selalu dipermudah sama Allah dalam urusan proposal. Semoga sampai skripsi, sampai ngelab selalu dipermudah. Aamiin :]
Semoga materinya fix yang ini, sudah sukak sama latar belakang yang di ambil. Buat elektroda pasta karbon termodifikasi zeolit A yang diimpregnasi sama Fe(III) yang digunakan sebagai pengukuran glukosa darah yang berada di urin untuk diagnosis penyakit diabetes melitus :] Hahahaha Puanjang ya judulnya :]
Yuhuuu, setelah ini semangat revisian :] Lagi nabung juga buat beli printer :] Uangnya sudah ada sih, tapi apa daya harus di alokasikan dulu untuk perawatan gigi. Hahahaha...Ayo mulai golek duwit maneh :]
Semangat Lulus dik! Agustus 2015 KUDU WISUDA S1 :] AAMIIN
Mulyorejo Utara 113, 13 Oktober 2014 21:02



Sabtu, 11 Oktober 2014

Edit

Hei Diriku, Bersabarlah!

Kemarin, saat rapat besar Kompetisi Kimia 2014. Sempat ngobrol asyik dengan Ana Yulvia, teman seangkatan yang menurutku paling dewasa dalam konteks berfikirnya. Hmm..Sedikit minta nasehat sama dia, biar hati agak tenang. Sering dihantui trauma tentang kecelakaan. Was-was kalau wajahku akan lama pulihnya :[ Mulai berusaha mengembalikan wajahku yang seperti sebelum kecelakaan. Sudah setiap pagi dan sore pakai dermatix untuk nyoba sedikit menyamarkan bekas jahitan dan bekas luka yang ada di wajah. Nyatanya, aku masih malu untuk melepaskan maskerku saat di kampus. Oh, take me back to the start! :[
Ana juga sedang agak galau, jadi dia menunjukkanku capture tulisannya di blog pribadi miliknya. Ini kata-katanya nyess lo. Lumayan mengobati ketidak tenangan yang melanda setelah kecelakaan ini.
Oke, check this out! Repost ya na...Ijin share :] ayulvia.blogspot.com
Bersabarlah!
Kadang ia datang dalam bentuk pujian, kadang dalam bentuk musibah, pun dalam bentuk peringatan. Namun kesemuanya hanya memiliki satu tujuan, agar kita kembali.
Benarlah, terkadang cara-cara sederhana tak cukup untuk mengingatkan dan memberikan kita pemahaman akan suatu hal. Sehingga sesekali kita mesti di berikan cubitan dan bentakan keras. Tapi apakah kalian tahu? Apapun bentuk cubitan dan bentakan itu, semua hanya karena betapa Allah masih menyayangi dan terus mengasihi kita. Setelah itu, entah kita akan ada di posisi mana. Apakah menjadi orang yang mengerti dan kembali. Ataukah menjadi orang yang tak bersabar lalu berputus asa. Semuanya hanya bagaimanana kita menyadari kesalahan dan memetik hikmah dari apapun itu.
Kepada diriku. Aku mohon bersabarlah bersabarlah!
Tulisannya Ana telah menamparku. Aku masih belum bisa menerima kenyataan tentang musibah yang menimpaku. Betapa sayangnya Allah padaku. Aku masih bisa menikmati indahnya dunia dengan dua mataku.Masih bisa merasakan indahnya bisa berkumpul kembali dengan keluarga dan dengan teman-teman kimia. Masih bisa merasakan indahnya ngerjain tugas dan laporan praktikum.
Apa jadinya jika saat hari naas itu aku mengenakan helm yang kliknya rusak? Apa jadinya jika hari itu ternyata aku kecelakaan di Surabaya? Apa jadinya jika hari itu aku tidak ada dek Lutfan yang mengikutiku dari belakang?

Allah, ajarilah aku untuk bersabar dan terus bersyukur. Maafkan hambamu ini ya Robb :[
Orang Jawa hanya bisa berucap “Sujune” sama “ Jathukno”. Untuk kasus ini, aku banyak menggunakan kata “Sujune” yang artinya untungnya.
“Sujune” aku memakai helm yang kliknya masih berfungsi. “Sujune” aku kecelakaan di Pare, apa jadinya kalo aku di Surabaya saat ini. Pasti bingunglah kedua orangtuaku. “Sujune” aku sama dek Lutfan, sehingga ada yang menolongku. Membawaku ke rumah sakit, mengamankan tasku yang berisi laptop dan uang pendaftaran KK sebesar 1 jutaan.
Hanya bisa berucap, Alhamdulillah ya Allah. Terimakasih atas cubitan yang telah Engkau berikan padaku. Ingatkan aku ya Allah bahwa cubitan ini adalah kesempatn  agar aku bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi.  Ampuni hambamu ini ya Robb. Astagfirullahhaladzim..... :[

Mulyorejo Utara 113, 11 September 2014 21:51


Jumat, 03 Oktober 2014

Edit

Gadis Bermasker

Setelah sembuh dari pemulihan luka karena kecelakaan. Aku sudah bisa ngampus seperti biasanya. Tapi harus rela kalau setiap hari ngampus dengan muka yang selalu tertutup oleh masker. Meskipun itu cukup mengganggu komunikasiku dengan orang-orang sekitarku, tapi aku merasa lebih aman dan nyaman dengan cara ini. Aku tidak mau, orang yang melihat lukaku merasa kasihan kepadaku ataupun mencibirku karena luka di wajahku. Nyatanya aku tak cukup kuat untuk menghadapi cibiran yang akan dilayangkan  kepadaku. Namanya manusia pasti ingin terlihat lebih baik di depan orang lain.
Okeee, aku rapopo. :] Selain kuliah aku juga disibukkan dengan menjadi asisten dosen tiga praktikum yang berbeda dan ada kewajiban memberikan tutorial kimia dasar 1 kepada maba. Yah, namanya asdos ya pekerjaannya mengarahkan adik-adik kelas untuk praktikum. Untuk praktikum kimia analitik 1 aku tidak mengalami kesulitan yang berarti. Karena mereka sudah paham apa yang akan dilakukan karena praktikum kimia analitik ini adalah praktikum individu. Jadi kalau mereka tanya tentang kesulitan selama praktikum, aku tidak membutuhkan kekuatan yang ‘ngoyo’ untuk ngomong. Karena mereka tanyanya satu-satu, jadi masih dengerlah ya karena faktor volume suara yang rendah. Eh maklum bibir masi kaku karena ada bekas jahitannya. Untuk ketawa aja agak ‘ngempet’ nyerinya. Untuk ngomongpun juga begitu. Beda lagi untuk tutor kimia dasar 1, aku merasa bersalah karena belum bisa menjelaskan materi  dengan suara lantang yang bisa di dengar oleh dua puluh anak di ruangan terbuka yang riuh. Akhirnya aku menyerah dan meminta maaf kepada mereka karena keterbatasanku ini. Mereka memaklumi keadaanku, mereka malah merasa kasihan. Duh, aku ndak suka dikasihani. -_____-
Untuk praktikum kimia lingkungan, aku fine saja. Mereka hanya ber-14 anak saja. Dan kami praktikumnya di laboratorium yang lumayan cukup longgar. Sehingga saat aku menginstruksikan langkah kerja praktikum, mereka masih bisa mendengar suaraku. Mereka mengira aku memakai masker untuk menghindari bau buffer salmiak yang menusuk hidung. Syukurlah, mereka tidak mengasihaniku. Tidak tanya kenapa aku menutup mukaku dengan masker :]
Untuk praktikum kimdas 1 aku belum sempat ngasdosi. Kata anak-anak praktikumnya di gedung pertamina lantai 5. Hmmm..bahkan kakiku masih belum sembuh bener ini :[ Untuk naik ke ruangan di lantai 3 pun, aku masih merasakan ngilu dan terengah-engah yang tidak pernah aku rasakan sebelum kecelakaan. Ya Allah, paringi kuat! Aamiin :]
Karena kebiasaan saat kuliah duduk di barisan kursi paling depan, aku merasa dosen-dosen melihatku dengan pandangan yang  ndak seperti biasanya. Mungkin mereka mengira aku tidak sopan ataupun mereka justru penasaran kepadaku karena aku memakai masker mekipun sudah ada di kelas yang berAC. Hahahaha...All is well :]
Eh iya, sempat lupa. Ibu penyet madura langganku tetap mengenali wajahku meskipun aku pakai masker. Ibuknya tahu kalau aku habis kecelakaan. Ibuknya bilang gini “ Owalah nak, bilahi slamet yo nak. Awakmu padahal yo mbari loro tipus pisan lo. Alhamdulillah ga enek luka dalam “. Loh, aku menjawab sambil melongo. Ternyata ibu madura tahu dari Fara. Ibuknya juga  sempet tanya aku dirawat dimana, kalau di Surabaya katanya mau jenguk aku. Tapi aku kan dirawat di Pare. Alhamdulillah, bertambah orang-orang yang menyayangiku.
Ingin secepatnya bengkak bibir ini mengempis agar bisa cepat-cepat pasang gigi dan bisa ngomong seperti biasanya. Tanpa masker. Aamiin
Tidak ingin terus-terusan dikasihani oleh orang lain. Ingin jadi perempuan yang tegar dan tangguh.
Berikanlah kesembuhan ya Roob :] Agar aku bisa melakukan tugasku sebagai mahasiswa tingkat akhir dengan hasil yang memuaskan. Aamiin :]


Kamis, 02 Oktober 2014

Edit

ALLAH SUAYANG BANGET SAMA AKU :)

Setelah pulang dari rumah sakit, ada sesuat yang terus mengusikku. Orang yang berhasil mengevakuasiku dari TKP Kecelakaan sampe ke RSUD Pare belum terlihat batang hidungnya sampai aku meninggalkan rumah sakit. Berterimaksih pada Allah karena saat itu aku ditakdirkan untuk pergi ke Stasiun Papar bersama dek Lutfan.
Setelah pendaftaran OTS KK 2014 sukses di SMAN 2 Pare, kami mengantongi 10 tim yang mendaftar :] Alkhamdulillh :] Aku dan dek Lutfan berencana pergi ke Stasiun Papar untuk beli tiket balik ke Surabaya esok hari. Mengingat badanku lumayan sakit-sakit saat pulang Kediri mengendarai bus, meskipun itu bus Patas Harapan Jaya. Saat itu aku di depan mengendarai motor sendiri. Dek Lutfan menyusul dibelakangku. Setelah melewati perempatan dekat Tugu Garuda menuju Papar, yang aku ingat ada motor yang menyalip kencang di sampingku dengan bawaan obrok besar dibelakangnya. Setelah itu ndak ingat apapun yang terjadi.
Kembali ke cerita intinya, aku lalu menghubungi dek Lutfan melalui SMS.
A : Aku
B : Dek Lutfan
A : Assalamu’alaikum dek. Makasih ya kemarin udah bantu aku. Lemah teles, Gusti Allah sing mbales kebaikanmu dek :}
B : Mbak Dika :[
B : Aamiin :[Gimana mbak keadaane sampean? Aku kemarin ndak berani njenguk sampen. Aku ndredek mbak.
A : Alkhamdulilla, aku sudah pulang ke rumah dek. Eh, gimana kronologi kejadiane dek? Aku bener-bener ndak ingat apa-apa :[
B :  :[ Kemarin sampean disenggol orang bawa obrok mbak. Orang e cuepet.
A : Oh, iya dek. Aku ingatnya cuma ada orang nyalib bawa obrok. Setelah itu aku ndak ingat apa yang terjadi. Eh, aku kemarin setengah sadar saat dalam mobil sama kamu waktu ke rumah sakit. Aku kembali pingsan saat aku liat wajahku penuh darah di spion depan. Itu pakai mobilnya siapa dek?
B : Pakek mobilnya orang yang lagi makan di rumah makan. Alkhamdulillah orangnya baik mbak.
A : Alkhamdulillah dek. Oh iya, orang yang nyenggol aku lari ya dek?
B : Iya mbak. Sampean habis di senggol orang tadi. Sampean nyenggol ibu-ibu. Terus sampean terpental, untung helm e sampean ndak lepas :[ Ndak bisa bayangkan aku mbak. Ngeri mbak. Aku banyak belajar dari kejadiane sampean.
A : Loh, iyakah dek? Terus ibu-ibunya gimana? Ndak papa kan dek ? :[
B : Ibunya ndak papa. Alkhamdulillah cuma jatuh aja. Tapi sampean terpental mbak.
A : Ya Allah dek :] Aku hari itu untung pakai helmnya bapakku yang kliknya masih baik. Sedangkan helmku sendiri kliknya udah rusak dek. Aku gatau apa yang terjadi jika pakai helmku.  :[  Allah suayang sama aku dek :}
B : Iya mbak. Sudah ada yang ngatur mbak. Kita cuman bisa bersyukur. Alkhamdulillah, sampean sing tabah ya mbak.
A : Insyaallah sabar dek  :] Aku ndak papa kok sekarang. Semoga yang nyenggol diampuni sama Allah dek. Ini tinggal penyembuhan kok dek. Aku untung ndak ada luka dalam. Ndak ada patah tulang ndak muntah juga setelah jatuh, kebanyakan yang ditakutkan gagar otaknya. Aku cuma jahit bibir dalam atas bawah sama gigiku patah 3 dek. Masih bisa disembuhkan dek :]
B : Alkhamdulillah. Aku samar sampean mangkel sama orang yang nabrak. Untung sampean ndak mbak.
A : Ndak dek,  Allah Maha Adil kok :]
Bersyukur banget, Alkhamdulillah :] Aku masih diberikan nikmat hidup. Pelajaran yang bisa diambil dari cerita di atas adalah selalu pakai helm yang kliknya masih bisa dipakai. Kita tidak tahu apa ang akan terjadi selanjutya. Karena meskipun kita sudah sekuat tenaga hati-hati di jalan, tetapi ada orang lain yang ceroboh. Kitapun masih terkena imbas dari ketidak hati-hatian orang tersebut. Safety riding yak! Sayangi nyawa kita sendiri :]



Edit

Kangen Kampus

Saat itu tanggal 20 September, aku bersemangat untuk membeli tiket kereta untuk kembali ke Surabaya esok hari. Dengan perasaan senang karena saat pendaftaran On The Spot Kompetisi Kimia 2014 membuahkan hasil. Dengan segala upaya memohon bantuan dengan wajah memelas kepada kaur kesiswaan SMAN 2 Pare untuk mengumumkan pendaftaran OTS KK melalui mikrofon sekolah yang terhubung ke setiap kelas. Alhamdulillah,  ada 10 tim yang mendaftar KK untuk hari tersebut. Sebagian anak yang ingin mendaftar tapi belum membawa uang memelas agar kami betiga ( Aku, dek Lutfan dan dek Jeni ) kembali lagi melakukan pendaftaran OTS sabtu depan, 27 September.
Sembari menunggu siswa yang mendaftar, kami berbincang dengan guru Kimia kami waktu SMA. Bapak Tumaji, merupakan salah satu lulusan Kimia Unair angkatan awal-awal saat jurusan Kimia Unair baru terbentuk. Kami ngobrol ngalor ngidul menceritakan masa-masa pak Tum masih kuliah dengan segala cerita menariknya saat menjadi mahasiswa. Menanyakan kabar dosen-dosen kimia yang sebagian besar adalah satu angkatan dengan pak Tum. Obrolan berakhir ketika pak Tum ijin untuk pulang. Selanjutnya disusul dengan dek Jeni yang ijin untuk mengambil kebaya untuk pernikahannya Oktober bulan depan. Akhirnya tinggalah aku dengan dek Lutfan sendirian di aula sekolah menunggu adik adik yang mau menyerahkan formulir perndaftaran.
Setelah segala urusan untuk OTS selesai, aku dan dek Lutfan ijin untuk tidak mengikuti acara rapat evaluasi di rumah Fara di jalan Dhoho. Karena terlalu jauh dan kami berdua belum beli tiket kereta untuk esok hari. Akhirnya, kami memutuskan untuk membeli tiket ke stasiun Papar. Dek Lutfan menyuruhku untuk dahulu, dia menyusul di belakangku. Saat  kami mengambil arah Papar di perempatan dekat tugu Garuda. Tiba-tiba saja ada motor dengan bawaan “obrok” mendahuluiku. Aku lupa dengan apa yang terjadi. Saat aku bangun, aku sedang di dalam mobil. Aku dipegang dek Lutfan dan aku  melihat wajahku berlumur darah di spion depan mobil tersebut. Aku  tersadar kembali saat aku merasakan sakitnya jarum jahit menembus bibirku :[
Saat aku lihat pintu IGD RSUD Pare, ada bapak, ibuk dan mbak Likah berdiri di dekat pintu dengan wajah yang cemas. Lalu petugas rumah sakit menyuruh mereka untuk tidak berdiri dekat pintu IGD. Setelah  itu aku tak sadarkan diri lagi. Saat aku sadar aku merasakan sakitnya luka yang ada di wajahku. Aku tidak melihat dek Lutfan saat itu, yang masuk ke dalam IGD hanya bapak, ibuk, mbak Likah dan dek Jeni pamitan untuk pulang. Tak beberapa lama, akhirnya datang Fara, Keceng, Choki dan dek Ayu datang menjenguk. Mereka menghiburku agar tidak sedih dan tetap sabar.
Pukul 4 Sore aku dipindahkan ke kamar kelas 2, ruang Tanjung. Bapak menolak untuk BPJS karena bapak tahu, banyak pasien BPJS yang terlantar belum mendapatkan kamar. Aku merasakan waktu berlalu sangat lama saat di rumah sakit. Membosankan dan jenuh, itulah yang terjadi selama 4 hari di RSUD Pare. Aku mengisi waktuku di RSUD dengan mengerjakan TTS ataupun bermain games. Sering dimarahi perawat karena jarum infus sering kendor karena tangan kananku sering aku gunakan bergerak. Setiap hari banyak sekali saudara yang bertandang untuk menjengukku. Aku merasa sangat bahagia dan haru melihat mereka antusias mendoakan untuk kesembuhanku. Sebagian besar dari mereka ada yang meneteskan air mata saat melihat wajahku bengkak di mana-mana penuh dengan luka. Aku yang kala itu berusaha menguatkan diriku untuk tidak meneteskan air mata, akhirnya menyerah. Aku juga ikut menangis. Orang yang paling tegar yang tidak terlihat meneteskan airmata adalah ibuk dan bapak. Bapak sudah mewanti-wanti ibuk untuk tidak menangis agar aku tidak ikut menangis dan sedih.
Empat hari di rumah sakit sudah cukup untukku. Semoga itu pertama dan terakhir kalinya aku menginap di rumah sakit. Amiin ... Saat pulang, aku mendapatkan kejutan yang sungguh mengejutkanku. Masa lalu kembali berputaran di otakku. Yup, keluarganya mantan jauh-jauh dari Magetan menjengukku. Sempat shock karena mereka tak memberitahu dan mereka tahu darimana aku juga tak tahu. Saat itu mantan juga dalam keadaan tak bisa jalan karena juga jatuh, sehingga yang ada hanya ibuknya, bapaknya, budhenya dan pak dhe Sar. Ada rasa canggung saat itu karena aku sering mengabaikan sms ibuknya.Hmmm.. mereka tak lupa membawakanku tempe Magetan sekardus. Tempe Magetan merupakan  tempe terenak yang pernah aku makan. Yang sering mantan bawakan saat masa-masa ngapel ke rumah dulu. Hahahaha :] Pulang ke rumah dengan menumpang mobil yang mereka naiki. Ada sedikit rasa malu, kenapa selalu merepotkan mereka. Saat sampai di rumah, tetangga kasak kusuk menanyakan saudara dari bapak atau ibuk. Akhirnya, ibuk menceritakan semuanya tentang mereka sejujurnya.
Sorenya, aku merasa senang sekaligus kasihan pada Fara, Ilma, Ridwan dan Sis yang belain jauh-jauh dari Surabaya buat jenguk aku. Thanks rek :* Kedatangan kalian membuatku ingin segera cepat-cepat balik Surabaya. Kembali kuliah seperti biasanya. ;] Saat ini aku sedang berjuang untuk segera sembuh. Agar bisa membantu final Kompetisi Kimia nanti tanggal 11 Oktober nanti. Wait me Kampus rek! I miss you rek :]